Tampilkan postingan dengan label Menuju Pilpres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menuju Pilpres. Tampilkan semua postingan

Capres-cawapres daftar ke KPU


Mendaftar Pilpres - Dari kiri ke kanan, pasangan capres-cawapres Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Jusuf Kalla_Wiranto, dan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto saat mendaftar sebagai capres-cawapres pemilu presiden Gedung KPU, Jakarta, kemarin.

Kumpulan artikel - Ada apa sebenarnya hari sabtu kemarin yach, kayaknya rame banget ada rombongan orang berjalan kaki mengiringi dua orang, oh ternyata mereka JK-Win pasangan capres-cawapres berjalan kaki melewati jalan Diponegoro, Menteng, ke Jalan Imam Bonjol menuju (Komisi Pemilihan Umum) KPU.

Pasangan JK-Win menjadi pasangan pertama mendaftar setelah sampai di KPU pukul 11.00 WIB. Dan agak siang lagi sekitar pukul 13. 00 WIB ada sederetan mobil masuk ke KPU dan yang turun Mega dan rombongan PDIP diikuti Prabowo dan Gerindranya. Agak sorean masih ada lagi kali ini rombongan SBY-berBudi yang di dampingi oleh para petinggi 23 partai peserta koalisi, tiba sekitar pukul 14.45 WIB. Yah, hari Sabtu tanggal 16 Mei 2009 kemarin merupakan hari terakhir pendaftaran capres-cawapres untuk Pemilu Presiden 8 Juli mendatang. Akhirnya tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) resmi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mereka percaya diri dan mengaku siap bertarung dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 8 Juli mendatang.

Ada yang menarik pada kali ini karena dua pasangan capres dan cawapres menggunakan pakaian dengan warna seragam dimana JK-WIN menggunakan warna putih-putih dan SBY berBudi warna biru-biru. Pakaian yang dikenakan Mega-Pro tidak kompak, Mega memakai warna merah dan prabowo malah warna putih. Kelihatannya pasangan tidak matang dalam persiapan menuju RI 1, kenapa deklarasinya saja maju tarik ulur sampai detik terakhir baru terjadi kesepakatan dan esoknya mendaftar. Dalam kesempatan memberikan sambutan, Megawati menegaskan bahwa diantara pasangan capres yang lain, dirinya yang paling cantik. "Saya bilang pada beliau (Pramono Anung), Pram jangan lupa supaya semua orang tahu bahwa pasangan kita itu yang paling cantik dan tidak ada duanya sehingga tentunya bagi masyarakat sangat mudah untuk memilih, insya Allah, katanya".


Jadi sekarang sudah jelas toh... siapa capres-cawapresnya. Jangan lupa kalau tanggal 8 Juli 2009 ke TPS, (JK) jika motor Win nya mogok berangkatnya naik motor Mega-Pro, setelah sampai jangan lupa budi SBY lima tahun lalu.

Read On 0 komentar

Ketika SBY berBoedi

Kumpulan artikel – Hari Jum’at tanggal 15 Mei 2009 pukul 19.30 WIBB Partai Demokrat mendeklarasikan pasangan Capres dan Cawapres yang bertempat di gedung Sasana Budaya Ganesha, ITB, Bandung. Perhelatan acara yang sungguh meriah yang di hadiri para partai peserta koalisi dan beberapa tamu undangan yang memenuhi semua tempat duduk di gedung tersebut. Sebelum acara di mulai, para hadirin menyambut kedatangan Capres Susilo Bambang Yudhoyono beserta istri dan Cawapres Boediono beserta istri dengan lagu halo-halo bandung yang dilantunkan dengan bersemangat. SBY-Boediono mengenakan kemeja merah dengan motif batik berwarna putih di tengahnya dan menggunakan peci hitam memasuki ruangan dan memberikan lambaian tangan kepada semua hadirin yang ada di gedung tersebut. Sebelum acara di mulai terlebih dahulu dinyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan di lanjutkan dengan pidato partai Demokrat yang di bacakan oleh Gamawan Fauzi gubernur Sumatera Barat. Dalam pidatonya mengusung dan menetapkan Dr.H. Susilo Banbang Yudhoyono sebagai Calon Presiden dan Prof. Dr. Boediono sebagai Calon Wakil Presiden dengan jargon SBY berBoedi.

Dalam pidatonya SBY mengatakan, Boediono merupakan seorang teknokrat dan ekonom yang cerdas, ulet, keras dalam bekerja, dan bertanggung jawab. Selama bekerja sama dengan Boediono dalam kabinet yang dia pimpin, guru besar ilmu ekonomi UGM ini merupakan seorang koordinator menteri yang berpikir utuh, loyal, cermat, tidak grusa-grusu, dan jauh dari keinginan mencari muka.

“Di atas segalanya, di dalam mengemban tugas, Pak Boediono tidak memiliki konflik kepentingan, baik untuk kepentingan bisnis atau motivasi politik yang lain. Beliau akan mampu membantu saya untuk mengatasi krisis perekonomian dan selanjutnya kembali meningkatkan perekonomian nasional dan kesejahteraan rakyat,” ujar SBY di hadapan dua ribu tamu undangan yang hadir.

SBY juga menilai Boediono sebagai seorang muslim yang lurus, jujur, sederhana, konsisten, dan toleran. “Beliau juga akan mampu membangun pemerintahan yang bersih,responsif,bebas korupsi, dan bertanggung jawab,” tambahnya. Kepada mitra koalisi SBY mengajak agar pada pemerintahan kabinet mendatang—jika berhasil menang pada pilpres— menjadi kabinet presidensial yang amanah, efektif, dan kredibel.

Menurut dia, tugas dan kewajiban pemerintah adalah bekerja untuk rakyat dan menjalankan program-program prorakyat. Pada hakikatnya, lanjut SBY, kabinet pemerintahan adalah forum untuk bekerja dan bukan forum untuk berpolitik sendiri-sendiri. “Marilah kita bekerja dan berjuang sekuat tenaga sesuai janji kita semua kepada rakyat untuk membangun Indonesia yang lebih aman, adil, demokratis, dan sejahtera,” ajaknya.

Boediono mengatakan “di sini 63 tahun yang lalu Bung Karno menyatakan “Indonesia Menggugat” menggugat dari penjajahan Belanda pada waktu itu dan sekarang juga “Indonesia Menggugat” dari penjajahan liberalisme, imperialisme barat dan berjuang untuk membangun Indonesia berdiri di kaki sendiri hal ini untuk meyakinkan tuduhan bahwa Boediono termasuk paham neoliberal. Perekonomian Indonesia tidak bisa diserahkan sepenuh nya pada mekanisme pasar bebas agar dapat memberikan keadilan kepada rakyat. “Selalu diperlukan intervensi dengan aturan main yang jelas dan adil,” kata Boediono pada acara deklarasi di Bandung tadi malam. Menurut Boediono, untuk mengatur perekonomian diperlukan lembaga pelaksana efektif yang harus disediakan negara. Walau demikian, negara tidak boleh banyak campur tangan dalam perekonomian karena akan mematikan kreativitas.

”Tetapi negara juga tidak boleh hanya tidur.Untuk itu diperlukan sebuah pemerintahan yang bersih. Kita semua sadar bahwa pemerintahan yang bersih tidak akan hadir karena dipidatokan,” kata Boediono. Dia mengingatkan keharusan adanya garis pemisah yang jelas antara kepentingan bisnis dan penyelenggaraan pemerintahan.

“Saat ini kita tidak hanya harus melawan penjajahan dari kekuatan luar, namun juga dari dalam,karena semua itu membuat kita terpuruk dan bangkrut,” kata Boediono. Indonesia, menurut Boediono, membutuh kan pemimpin yang tidak dikotori oleh suap dan tidak mau memperdagangkan kekuasaan.

Indonesia butuh pemimpin yang tidak mencampuradukkan kepentingan republik dengan kepentingan bisnis keluarga,”kata Boediono. Dia berjanji akan bekerja keras untuk mengurangi kemiskinan, kesewenangan dan ketidakadilan.” Saya siap bekerja mulai hari ini,”katanya.

Mengenai kontroversi pencalonannya sebagai cawapres yang dianggap tidak pantas oleh berbagai partai mitra koalisi Partai Demokrat, Boediono hanya mengatakan bahwa itu sebagai buah dari demokrasi. “Itu menunjukkan demokrasi yang hidup,”katanya..

Demikian pidato para calon pemimpin negeri ini yang di usung oleh Partai Demorat, PKS, PPP,PKB dan PAN yang masih kecewa dengan keputusan Partai Demokrat mengenai Boediono sebagai Cawapres, dan para petinggi PAN juga tidak hadir di sini (Amien Rais; red). Sedangkan PKS yang suaranya paling keras setelah diinfokan bahwa Boediono yang mendampingi SBY tampak setuju hak ini dilihat dari kehadiran para petinggi Partai yang sebelum pendeklarasian sempat bertemu dengan SBY di hotel Sheraton Bandung. Pasangan SBY-Boediono akan mendaftarkan diri ke KPU sebagai Capres dan Cawapres pada pukul 15.00 WIBB.

Dan Satu pasangan Capres dan Cawapres juga di umumkan yaitu pasangan Megawati-Prabowo yang diusung partai PDIP dan Gerindra yang bertempat di Teuku Umar. Pendeklarasian pasangan ini tidak terdengar begitu jelas yang awalnya jum’at siang akan di gelar malahan tidak jelas kelanjutannya sampai pendeklarasian Capres dan Cawapres dari Partai Demokrat selesai, dan belum ada tanda-tanda PDIP akan menggelar pendeklarasian tersebut.

Akhirnya pada pukul 22.00 WIBB pendeklarasian dilaksanakan. Megawati mengatakan dalam memilih Prabowo sebagai pasangannya karena Prabowo dapat membangun ekonomi berbasis kerakyatan. Dan pasangan ini akan mendaftar ke KPU pada hari ini jam 13.00 WIBB.

Read On 1 komentar

Atas Nama “Kuning” Lebih Cepat Lebih Baik


Kumpulan artikel - Ketidak inkonsistennya partai golkar beberapa waktu lalu setelah rapimnasus terjawab sudah. Walaupun dalam pendeklarasian tersebut masih terjadi perselisihan antara DPP Partai dan beberapa DPD Partai Golkar, dimana sikap DPD menginginkan koalisi tetap dipertahankan dengan Partai Demokrat. Pihak DPP tetap pada keputusan rapimnasus yang di gelar pada 23 April lalu, yaitu tetap mengusung JK sebagai calon Presiden.

Sesuai dengan slogan “Lebih cepat Lebih baik”, akhirnya pada awal mei partai golkar mendeklarasikan calon Presiden dan Wakilnya yang maju dalam pilpres 8 Juli 2009 yang akan datang. Langkah yang di lakukan mendahului calon koalisi partai lain. Pada malam tersebut partai Golkar mengumumkan bahwa Jusuf Kalla sebagai calon presiden dan Wiranto sebagai calon wakil presiden. Memang beberapa hari terakhir sebelum pengumuman antara partai golkar dan hanura mengadakan pertemuan yang lebih instens, dan akhirnnya menemukan titik temu untuk menggalang koalisi dalam pencalonan pada pilpres nanti.

Kita sama-sama tahu antara partai golkar dan hanura berasal dari basic yang sama, yaitu kuningiesme. Karena Wiranto pendiri partai hanura dan ketua umum partai tersebut merupakan kader golkar, yang lebih mendirikan bendera partai sendiri karena sebagai kader aspirasinya tidak dapat terwakilkan. Akhirnya dengan bendera hanura Wiranto berjuang di pemilu legislatif 09 April kemarin. Padahal target partai bisa mencalonkan Wiranto sebagai calon presiden, tetapi harapan tinggal harapan kenyataannya perolehan suara partai tidak memenuhi syarat untuk Capres. Akhirnya menerima tawaran dari Golkar untuk menjadi wakil. Kalau kita melihat ke belakang tepatnya lima tahun yang lalu Wiranto merupakan calon presiden yang gagal masuk putaran dua, pada pilpres sekarang malah turun target.

Sebenarnya koalisi ini tidak begitu kuat, karena struktur partai golkar sampai tingkat bawah tidak selaras dengan pimpinannya. Koalisi ini lebih karena menjaga gengsi atau penyelamatan nama partai golkar. Seorang Wiranto sendiri tidak cocok dengan JK, karena setelah JK terpilih menjadi ketua umum partai golkar, Wiranto lebih baik mundur dan mendirikan bendera baru. Kalau kita lihat sebenarnya malah mereka ini sama-sama berbaju kuning, tapi berbeda hati. Yang satu berhati nurani dan satu lagi berhati-hati jangan sampai tidak punya andil dalam pemerintahan alias kekuasaan. JK merasa bahwa selama lima tahun merupakan andil beliau sebagai wakil presiden padahal wakil adalah pembantu presiden. Memang semua kebijakan lima tahun yang lalu banyak dipengaruhi oleh wakil presiden. Kita sama-sama tahu presiden kita di kursi parlemen dukungannya kalah dengan partai yang di pimpin wakil presiden. Jadi ya gitu dehada dualisme kepemimpinan di negeri ini.

Koalisi ini lebih mengarah ke penyelamatan nama kuning sendiri dan platform yang mo di bangun juga tidak jelas. Saya kira mereka sudah siap kalah, ya kenapa ? dalam koalisi Capres dan Cawapres sepakat antara golkar dan hanura mengajukan calon sendiri, akan tetapi pada pagi hari sebelum pendeklarasian mereka mendatangani bersama partai PDIP, Gerindra, PPP sepakat menggalang kaolisi besar di parlemen. Apa kata dunia…!!! Masa koalisi ga serius, cuman menginginkan kekuasaan belaka? Gimana nasib rakyat dan bangsa ini. Jika mereka terpilih nanti, yang ada bagi-bagi kekuasaan aja. Tidak mementingkan nasib Bangsa dan Negara ini. Lagi-lagi mereka berdalih atas nama demokrasi ? beenaaar atas nama demokrasi…! apa atas nama Kuning ?

Kita tunggu aja masa kampanye nantipilihlah sesuai hati nurani tapi jangan pilih hati nurani

Read On 0 komentar

Koalisi Besar Hadang SBY


Kumpulan artikel- Sejumlah media memberitakan para petinggi partai yang tidak pro dengan SBY akan menggalang suatu kekuatan untuk menghadang laju SBY dalam menduduki kursi RI-1 kembali. Mereka adalah para elite partai yang natabene partai-partai besar yang sudah lama mengikuti pemilu dan beberapa partai baru diantaranya Partai Golkar, PDIP, PPP,PAN, Parta Hanura, Partai Gerindra. Para elite sadar jika tidak bersatu maka untuk menyaingi SBY itu sangat sulit, karena publik sudah percaya pada kepemimpinan SBY. Dari perolehan sementara menunjukan Partai Demokrat unggul dengan 20 % suara, hal ini bukan karena partai yang menjadi acuan publik. Akan tetapi figur seorang SBY-lah yang menjadi pertimbangan, apalagi slogan kampanye Partai Demokrat "Lanjutkan ". Satu kata tetapi berjuta makna ini, terbukti perolehan suara partai melonjak drastis memenuhi target suara untuk mengusung calon Presiden. Tanpa berkoalisi pun Partai Demokrat bisa mencalonkan Presiden dan Wapresnya sendiri, tapi buat memperkuat pemerintahan koalisi diperlukan untuk memperkokoh diparlemen.
Berangkat dari situlah maka para elite dari partai Golkar,PDIP,PAN,PPP,Hanura,Gerindra, bertemu untuk mengusung satu nama calon Presiden yang bisa menandingi figur SBY. Apakah ini akan terwujud ? Kita semua tidak tahu karena manuver-manuver para elite tersebut sangat sulit sekali ditebak. Mereka saling kunjung sana-sini. Padahal dari partai Golkar dan PDIP sudah jelas -jelas punya calon presiden masing-masing. Bahkan sekjen PDIP Pramono Anung mengatakan memang kami punya nama calon presiden masing-masing akan tetapi itu bisa dimusyawarahkan dalam pertemuan para petinggi partai dan nantinya hanya ada satu nama calon saja.
Kita tunggu saja apakah dalam dua hari ini koalisi besar tersebut berhasil menemukan kata sepakat, dengan satu nama calon presiden.
Itu manuver para elite politik, bagaimana dengan keputusan di tingkat bawah dari DPD-DPD masing partai sampai ke tingkat grass rout apakah menerima dengan keputusan tersebut?
Read On 0 komentar

Manuver Meningkat, Koalisi Besar Stagnan

Kamis, 30 April 2009 | 02:52 WIB

Jakarta, Kompas - Manuver partai-partai politik untuk mencari bentuk koalisi yang paling menguntungkan semakin dinamis. Sepanjang Rabu (29/4), sejumlah pertemuan digelar, baik di antara ketua umum parpol maupun antartim pembahas.

Pergerakan paling dinamis terjadi di antara partai-partai politik yang berniat membangun koalisi besar. Meski demikian, sampai Rabu tengah malam, belum terjadi perkembangan signifikan tentang masa depan koalisi besar tersebut.

Persoalan utama tentu saja menyangkut siapa yang akan menjadi calon presiden dan siapa yang akan menjadi calon wapres karena sebagian besar parpol yang ”tergabung” di situ, seperti Partai Golkar, PDI-P, Partai Hanura, dan Partai Gerindra, memiliki capres sendiri.

Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla, semalam, menyatakan optimismenya bahwa koalisi besar itu pada akhirnya hanya akan mengusung satu pasangan capres dan cawapres. Terkait dengan itu, ia berharap terjadi kompromi di antara partai politik yang akan bergabung dalam koalisi besar.

Namun, lanjutnya, jika satu paket tidak bisa diwujudkan, munculnya dua paket capres dan cawapres pun tidak masalah.

”Itu harapan supaya pilpres cepat selesai dan cukup satu putaran saja. Akan tetapi, itu memang butuh kesepakatan yang harus dirundingkan. Namun, jika tidak bisa satu paket, ya tidak apa-apa,” ujar Kalla.

Tentang nama pasangannya yang akan menjadi cawapres, yaitu Ketua Umum DPP Partai Hanura Jenderal (Purn) Wiranto, Kalla mengaku belum waktunya disampaikan. ”Memang itu masih terus dirundingkan dan pada saat finalnya baru akan dideklarasikan kepada publik,” ujar Kalla yang menegaskan dirinya hanya mau menjadi capres dan bukan sebagai cawapres.

Sumber Kompas menyebutkan, Rabu tengah malam, Kalla bertemu Wiranto di kawasan Cibubur, Jakarta Timur.

Pagi harinya, Kalla juga bertemu dengan Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali di Istana Wapres. Menurut Suryadharma, koalisi besar yang akan dibangun Partai Golkar dan PDI-P dengan melibatkan PPP dan partai lain sangat positif untuk membentuk pemerintahan dan DPR yang kuat serta stabil.

Oleh sebab itu, PPP akan mempelajari tawaran itu dengan membentuk tim kecil yang terdiri dari tiga hingga lima orang.

Menurut Suryadharma, koalisi besar yang akan dibangun sebenarnya sama dengan koalisi golden triangle yang pernah digagas PPP setelah bertemu Partai Golkar dan PDI-P sebelum pelaksanaan pemilu.

Di tempat terpisah, Sekjen Partai Golkar Soemarsono menegaskan, koalisi besar yang akan dibangun Golkar dan PDI-P bukan untuk melawan Susilo Bambang Yudhoyono. ”Seolah-olah koalisi besar itu didirikan untuk melawan SBY, padahal tidak sama sekali dan tidak benar. Akan tetapi, untuk membentuk pemerintahan yang kuat dan stabil,” kata Soemarsono.

Tiga ”A”

Di tengah upaya Partai Golkar mewujudkan koalisi, pembangkangan di tubuh partai itu terus berlangsung. Penolakan Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota Partai Golkar terhadap keputusan rapat pimpinan nasional khusus yang menetapkan Kalla sebagai capres semakin menguat.

Sampai kemarin, surat pernyataan sikap sudah ditandatangani 34 DPD II. Surat itu intinya menegaskan bahwa penetapan Kalla sebagai capres tidak bersandar pada realitas perolehan dukungan suara.

DPD II mendesak agar rapimnasus berikutnya mengajukan tujuh nama yang sudah lolos mekanisme penjaringan DPD I dan DPD II sebagai calon wapres untuk mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Sultan HB X, Surya Paloh, Agung Laksono, Aburizal Bakrie, dan Fadel Muhammad.

Seorang anggota DPR dari Partai Golkar yang tidak bersedia disebutkan namanya yakin pada akhirnya dari tujuh nama itu yang akan dipertimbangkan Yudhoyono hanya ”tiga A”, yaitu Aburizal Bakrie, Agung Laksono, dan Akbar Tandjung.

Kontrak politik PKS

Secara terpisah, anggota Tim 5 Partai Keadilan Sejahtera, Mahfudz Siddiq, menyebutkan, rancangan kontrak politik yang disampaikan Tim 5 PKS direspons dengan baik oleh Tim 9 Partai Demokrat. Rancangan itu dinilai memiliki banyak kesamaan dengan garis kebijakan Partai Demokrat.

Bahkan, menurut Mahfudz, rancangan kontrak politik itu bakal menjadi draf rujukan dengan mitra koalisi lain.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kemarin di Kantor Presiden, menerima Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dipimpin Ketua Umum Din Syamsuddin. Din menyerukan agar di tengah upaya elite politik membangun koalisi, kebencian atau ketidaksukaan kepada pihak lain tidak dijadikan dasar pembangunan koalisi.

”Luar biasa pergerakan koalisi pilpres dan perubahannya. Sulit bagi pengamat mana pun untuk membuat analisis. Semua cair dan mengalir ke sana kemari,” ujar Din Syamsuddin. (HAR/INU/DIK/SUT)

Read On 0 komentar

Virus Koalisi Mulai Menyerang Beberapa Partai Politik

Cilacap-Kumpulan Artikel, penentuan koalisi partai politik memang bikin publik bingung, dengan manuver-manuver antara elite politik. Pembahasannya bukan bagaimana membangun negeri ini dengan sebuah platform yang jelas, tapi hanya mengarahkan pembagian kekuasaan. Bagaimana negeri ini jika nanti yang terpilih Capres-Cawapres dari dasar pemikiran tersebut. Mau dikemanakan republik tercinta ini. Sejumlah elite partai besar tidak mau berkoalisi jika salah satu kader partai tidak menduduki RI-2 atau sebaliknya. Dan ada juga yang tidak senang dengan Capres yang ada pengin dengan yang lain yang menawarkan lebih. PPP telah mengalami goncangan di tubuh partai itu sendiri, sehingga terjadi perpecahan dan terbentuk dua kubu yaitu Suryadharma Ali (Ketua Umum PPP) dengan Bachtiar Chamsyah (Ketua Majelis Syuro). Semua itu karena kekuasaan yang ingin diperoleh atau posisi jabatan di pemerintahan. Akankah Partai Golkar dan PAN menyusul penggerogotan di tubuh partai tersebut. Bangsa ini perlu pemerintahan yang kuat dan di dukung oleh parlemen yang kuat. Sehingga benar-benar tercipta demokrasi yang benar-benar demokrasi bukan democrazy.

Simak 3 surat kabar ternama dalam menampilkan tajuk berita seputar koalisi.

Kompas menampilkan tajuk berita Golkar Terus Digoyang, Kalla Makin Terjepit. Setelah memutuskan berhenti komunikasi antara elite PD dan Partai Golkar beberapa waktu lalu, dikarenakan Partai Golkar tidak sanggup syarat yang diajukan oleh Partai Golkar untuk mengajukan lebih dari satu nama Cawapres. Setelah mengetahui pertemuan itu tidak memenuhi titik temu, maka Partai Golkar memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan secara sepihak. Sehari setelah itu, Kalla langsung memimpin Rapimnasus pada hari kamis 23 April 2009 dan memutuskan mengusung Jusuf Kalla (JK) sebagai Calon Presiden. Senin (27/4) sebanyak 25 ketua Dewan Pimpinan Daerah Tingkat I Partai Golkar, dalam surat tertulis, meminta Jusuf Kalla mengajukan enam nama kader Partai Golkar sebagai calon wakil presiden yang akan berkoalisi dengan Partai Demokrat. Enam nama yang diajukan sebagai calon wapres adalah Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Akbar Tandjung, Sultan Hamengku Buwono X, Fadel Muhammad, dan Surya Paloh. (Kompas, Selasa, 28 April 2009 | 03:01 WIB). Selengkapnya baca di http://cetak.kompas.com.

Sindo mengusung topik PAN Belum Tentukan Arah Koalisi. Sebagai mana kita tahu pada seminggu yang lalu antara Amin Rais (Ketua MPP PAN) bersitegang dengan Soetrisno Bachir (Ketua Umum PAN). Amin Rais menginginkan berkoalisi dengan Partai Demokrat sedangkan Soetrisno sudah membicarakan arah koalisi dengan Prabowo (Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra). Sebenarnya sikap Soetrisno realistis sebagai Ketua Umum untuk mengadakan komunikasi penjajakan dengan sejumlah elite partai politik lain, dalam rangka mencari persamaan visi. Sikap seorang Amin Rais menurut saya terlalu arogan dalam mendikte Soetrisno karena mengharuskan PAN berkoalisi dengan Partai Demokrat.

Senin (27/4) malam Rapat Konsultasi Dewan Pengurus Pusat PAN dan Majelis Penasihat Partai (MPP) PAN tadi malam belum menghasilkan keputusan soal koalisi. PAN baru akan menyampaikan sikap resmi seusai rakernas yang akan diadakan 2 Mei mendatang.
Namun, muncul isyarat PAN akan berkoalisi dengan Partai Demokrat. “Sebenarnya keputusan sudah lebih mengerucut seperti apa kata Pak Amien (Ketua MPP PAN Amien Rais). Bagaimanapun Pak Amien tokoh sentral. Hanya saja ini perlu disahkan dalam rakernas tanggal 2 Mei 2009,” kata anggota Fraksi PAN Dradjad Wibowo seusai rapat konsultasi di Rumah PAN. (Sindo,Tuesday, 28 April 2009). Selengkapnya baca di http://www.seputar-indonesia.com/cetak.

Baca juga di http://www.suaramerdeka.com/smcetak, menampilkan di berita utama dengan judul Terbuka, Rujuk SBY-JK. Berita yang ditampilkan masih sama dengan dua surat kabar diatas. Seputar konsistensi Golkar untuk maju mencalonkan JK menjadi Capres mendapatkan pertentangan dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Ketua DPP Partai Golkar, Muladi, juga menilai koalisi dengan PD masih sangat memungkinkan. Hal ini karena sesunguhnya mayoritas pengurus DPD I Golkar menghendaki koalisi Golkar-PD berlanjut. Jika JK tak mau jadi cawapres, Golkar masih punya banyak kader lain.
Menurut Gubernur Lemhannas ini, jika SBY meminta beberapa nama cawapresnya, Golkar akan memberikan dan akan mengusulkan JK di urutan pertama. Namun jika JK menolak, Golkar akan memberikan kepada kader lainnya.( Suara Merdeka, 28 April 2009)

Read On 0 komentar

PD Yang Semakin PeDe

Kumpulan artikel-Partai Demokrat (PD) sudah yakin dengan perolehan suara yang diperoleh dalam pemilihan umum legislatif. Boleh dikatakan PD (Partai Demokrat-red) semakin PD (percaya diri-red) menghadapi pemilu presiden. Karena sampai hari ini perolehan suara sementara berdasarkan pusat tabulasi nasional PD masih memimpin dengan perolehan 20,644% atau sekitar 3,030,326 dari 14,678,745 (75,992 TPS) suara yang masuk ke KPU. Di urutan kedua di tempati parta GOLKAR dengan 14,635 % dan PDIP di urutan ketiga dengan 14,087 %. Perolehan suara PD sangat fantastis sekali karena partai ini yang masih tergolong muda, dan lahir dari proses reformasi di republik ini. Tapi kalau kita cermati sebenarnya suara partai demokrat ini cenderung melihat sosok figur seorang SBY, dimana masyarakat menginginkan bahwa pemerintahan dilanjutkan jangan lima tahun sekali ganti presiden. Penilaian masyarakat ini memeng wajar karena dari dulu pemilu selalu dimenagkan oleh partai kuning atau partai merah. Apalagi syarat dari partai untuk dapat mengajukan calon presiden adalah partai harus memperoleh 20 % suara atau 25 % kursi DPR.
Jika kita menengok sejarah pemilu 2004 perolehan suara PD sekitar 8,3 %, hal ini mungkin mengkhawatirkan. Strategi PD dalam iklan kampanyenya cukup berhasil dengan slogan "Lanjutkan", mampu mendongkrak suara yang sangat fantastis. Dengan perolehan suara sementara partai-partai pesaing mulai tidak senang dari fakta tersebut. Sehingga beberapa tokoh partai berkumpul di zona merah untuk membicarakan bahwa pemilu legislatif penuh dengan kecurangan. DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang kacau, malah mereka menyebutkan ada sekitar 50 juta penduduk indonesia yang dikebiri hak pilihnya.
Seharusnya mereka berkaca, memang DPT sudah kacau sebelum pemilu dilaksanakan. Bahkan dimedia televisi diberitakan sampai seminggu menjadi wacana. Apakah karena DPT itu mereka berkurang suaranya. Dari pantauan pada saat pemilu legislatif berlangsung berdasarkan berhitungan yang hadir menggunakan hak pilihnya sekitar 60 % dari daftar DPT, 30 % tidak sendiri tidak menggunakan hak pilih karena merantau,golput, dan 10 % surat suara tidak sah. Ini adalah fakta dilapangan. Masyarakat yang merantau tidak menggunakan hak pilih dikarenakan ongkos biaya,dan juga sekarang mereka tahu bahwa menggunakan hak pilih belum tentu merubah nasibnya. Sedangkan yang golput berpendapat bahwa proses demokrasi sudah tidak bagus, karena calon legislatifnya tidak ada yang mempunyai track record membela nasib masyarakat.
Marilah kita sama-sama terima hasil pemilu legislatif ini, walaupun sudah habis banyak biaya, tenaga untuk memenangkan pemilu ini. Ambil sebagai pelajaran, jangan cuman bisa menyalahkan, menghujat KPU,Pemerintah dan sebagainya. Memang pemilu kali ini pemilu yang ruwet, partainya banyak. Sampai-sampai para KPPS membuat laporan banyak yang salah, malah ada yang menghitung ulang dan selesai pelaporan jam 5 pagi. Sudah dibanyangkan bagaimana keakuratan data pelaporan, tenaga yang lelah, capai, mata ngantuk, di kejar target. Padahal anggarannya tidak mencukupi sampai waktu segitu. Berbahagialah yang tidak ikut menjadi KPPS, PPS, PPK, dan KPU.
Read On 0 komentar

Wakil Presiden itu Bagaimana...?

Kumpulan artikel-Dari beberapa 3 surat kabar ternama di negeri ini menampilkan beberapa elite politik saling berkunjung atau bersilaturahmi dalam rangka penjajakan koalisi untuk menghadapi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden(PilPres) yang akan diselenggarakan pada bulan Juni 2009 ini. Padahal perhitungan di tabulasi nasional atau KPU belum mencapai final. Mereka sudah ancang-ancang terlebih dahulu,melihat prosentasi perolehan suara yang di miliki mereka yakin dengan perolehan tersebut.
Yang menjadi disayangkan adalah sikap politik Golkar yang diambang-ambang keraguan antara maju sendiri dan bergabung dengan demokrat dengan Harapan mendapatkan jatah kursi Wakil Presiden. Dengan calon JK. Padahal kita sebagai nmasyarakat tahu, bahwa selama lima tahun ini seolah-olah ada dualisme kepemimpinan. Padahal yang namanya Wakil Presiden adalah pembantu Presiden. Tapi Wakil Presiden kita pada 5 tahun ini menjadi penentu kebijakan pemerintah. Hal ini dikarenakan Wakil Presidden kita adalah Ketua Umum sebuah partai Politik, di mana partai tersebut adalah pemegang kursi terbanyak di DPR.
Melihat dari itu secara prinsip kita mengharapkan Wakil Presiden kita nantinya adalah jangan Ketua Umum sebuah partai Politik. Atau nanti seandainya seorang Ketua Umum, jika terpilih siap mumdur dari Ketua Umum Partai Politik. Hal ini untuk menghindari dualisme kepemimpinan.
Oleh karena itu marilah kita dukung bersama-sama langkah para elite politik dalam penjajakan koalisi.
Read On 0 komentar
 

About me | Author Contact | Powered By Blogspot | © Copyright  2008